Tampilkan postingan dengan label BY: NOVI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BY: NOVI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Desember 2014

Ketika Tuham memberiku pilihan

Saat ku menatap dan menikmati derasnya hujan di malem yang sunyi. Ku menyadari bahwasanya ku sedang diberikan pilihan oleh Tuhanku ya Ilahi rabbi.

Ku sedang dilanda resah dan gelisa

Sabtu, 25 Oktober 2014

"Disaat"

Disaat ku merindukan Mu
Kau selalu ada

Disaat ku tersesat Kau lah yang memberi petunjuk

Disaat ku gelisa dan takut
Kau lah sang maha penenang

Disaat ku rapuh
Kau lah penguat

Kau selalu ada dimana2
Begitu banyak dosa ku pada Mu
Tapi Kau selalu setia ada untukku

Kini semakin ku mengerti bahwasannya
Engkau mengingin kan ku untuk lebih dekat dengan Mu

Menjadi pribadi yang berakhlak baik,bermanfaat untuk orang lain, dan bisa belajar dari pengalaman sebelumnya.

Tegurannya membuatku sadar bahwa sebaik-baiknya pelindung adalah Engkau. Terimakasi Ya Rabb telah menegurku, Alhamdulillah Kau masih percaya padaku untuk dapat berubah sehingga Kau lindungi jiwa dan raga ini.

Thank to Allah SWT.

Selasa, 30 September 2014

Ibu

Ibu
Kau lah yg membuatku kuat. Meski kau jauh di sana kasih dan sayangmu tetap dekat dalam jiwaku. Ku tahu, kau sedang menunggu ku dari kejauhan, menantikanku pulang. Dengan predikat sarjana. Pulang membawa ilmu yang selalu kau ajarkan disaat ku kecil dulu. Kau mengukirku dibuku besarmu untuk menjadi orang yang lebih baik dan kau berikan doa serta senyum yang begitu tulus hingga rasa lelah pun hilang. Ibu maafkan ku karna kau belum pernah mendengar kata maaf dan terimakasih dariku. Tapi ku janji aku akan mengatakannya dan akan ku bawa kau ke dunia ku yang baru hasil dari ukiranmu selama ini. Ibu maafkan ku belum bisa membawa mu ke dunia yang engkau inginkan dan Terimakasih atas bimbingan dan ukiran namaku di hatimu untuk menjadi manusia yang benar- benar berguna untuk semua orang. Dan selalu mengingatkanku akan selalu menolong orang lain walau ku sedang membutuhkan pertolongan. Terimakasih banyak buu..... kini ku mengerti betapa nikmatnya menolong seseorang disaat aku pun membutuhkan pertolongan.

Kekuatan anak itu ada pda orang tua yg terutama adalah ibu

Kamis, 14 Februari 2013

Empat Malaikat ketika Sakit



        Ketika Allah SWT telah menetapkan seorang hamba-Nya yang beriman, baik itu laki-laki atau perempuan, akan mengalami sakit, maka Dia akan mengirimkan empat malaikat kepada orang itu. Malaikat pertama diperintahkan untuk mengambil kekuatannya, maka orang itu menjadi lemah tidak seperti biasanya. Malaikat kedua diperintahkan untuk mengambil selera makannya dari mulutnya, maka ia jadi enggan makan walau terkadang merasa lapar. Malaikat ketiga diperintahkan untuk mengambil kecerahan wajahnya, maka orang-orang di sekitarnya akan melihat bahwa ia sangat pucat. Dan malaikat keempat diperintahkan untuk mengambil dosa-dosanya, maka ia terbebas dari dosa, kecuali dosa yang berhubungan dengan hak-hak manusia. 
Ketika Allah SWT menghendaki hamba beriman itu sehat kembali, maka Allah memerintahkan malaikat pertama untuk mengembalikan kekuatannya, dan ia akan berangsur kuat kembali. Malaikat kedua diperintahkan untuk mengembalikan selera makannya, maka ia akan senang makan dan itu membantu memulihkan kesehatannya. Malaikat ketiga diperintahkan untuk mengembalikan kecerahan wajahnya, maka kepucatan wajahnya berangsur menghilang dan kembali cerah seperti sediakala.
Tiga malaikat itu telah selesai melaksanakan tugasnya dan tidak lagi “membawa” beban apapun, tinggal malaikat keempat yang menunggu perintah Allah turun kepadanya sehingga ia tidak harus “membawa” seperti ketiga malaikat temannya itu. Tetapi perintah itu tidak datang-datang juga, karena itu ia memberanikan diri bertanya kepada Allah, “Wahai Allah, kami berempat adalah hamba-hamba-Mu yang patuh kepada perintah-Mu. Mereka bertiga telah Engkau perintahkan untuk mengembalikan apa yang mereka ambil, mengapa tidak engkau perintahkan aku untuk mengembalikan apa yang aku ambil dari hamba-Mu itu?”
Allah SWT berfirman, “Kemuliaan yang Aku miliki tak pantas membuat-Ku menyuruhmu untuk mengembalikan dosa-dosanya, setelah aku membuatnya kepayahan karena sakit yang dialaminya!!”
Malaikat keempat berkata, “Lalu apa yang harus aku lakukan dengan dosa-dosanya ini, Ya Allah??”
Allah berfirman, “Pergilah engkau ke laut dan buanglah dosa-dosanya di sana!!”
Malaikat keempat segera turun ke laut dan membuangnya di sana, dan ia terbebas dari beban sebagaimana ketiga malaikat temannya. Kemudian dari dosa-dosa yang dibuang tersebut Allah menciptakan buaya laut, Wallahu A’lam.
Kalau dalam sakitnya itu sang hamba mukmin meninggal, maka ia akan pergi menuju akhirat dalam keadaan suci, tanpa membawa dosa-dosanya. Tentulah dikecualikan dosa-dosa yang berhubungan dengan hak-hak anak Adam lainnya. Hal ini mungkin salah satu penjabaran dari sabda Nabi SAW, “Sakit panas sehari semalam adalah pelebur dosa setahun!!”
Dalam riwayat lainnya Nabi SAW menjelaskan, bahwa ketika seorang hamba mukmin sakit dan ia tidak bisa mengerjakan amalan-amalan istiqomah yang biasa dilakukan waktu sehat, maka Allah SWT memerintahkan malaikat mencatat pahala dari amal-amal kebaikan tersebut untuknya, walau ia tidak bisa mengerjakannya karena sakit yang dideritanya itu.
Tentulah semua itu bisa terjadi jika sang hamba mukmin tersebut sabar dan ridho dengan kehendak Allah kepadanya. Bukan justru “mengadukan/memprotes” Allah (yang menghendakinya sakit) kepada pengunjung-pengunjung yang menjenguknya.
Dalam keadaan sakit tersebut, seharusnyalah seorang hamba melakukan ikhtiar untuk berobat atau ke dokter, tetapi tidak boleh meyakini bahwa obat atau dokter tersebut yang menyembuhkan penyakitnya. Kalau keyakinan seperti itu tertanam, bisa-bisa ia terjatuh pada kesyirikan yang samar (syiri’ khofi), karena sesungguhnyalah hanya Allah yang berkehendak menyembuhkan, sebagaimana hanya Dia pula yang menghendakinya menjadi sakit.
            Maka ikhtiar itu ada batasnya, setelah itu harus tawakal kepada Allah tentang hasilnya, yang mana tawakal tersebut tidak ada batasnya. Jangan sampai kita “terjebak” dengan pameo “berusaha/ikhtiar tanpa batas” dan tidak pernah sempat untuk tawakal. Apa jadinya kalau kita meninggal dalam keadaan ikhtiar, sementara kita belum pernah atau belum sempat tawakal kepada Allah?